"Pelayanan Layaknya Keluarga."

Ibu hamil yang baru mengandung anak pertama mungkin masih bingung dalam membedakan jenis kontraksi. Apalagi, ada yang namanya kontraksi palsu dan asli. Supaya Bumil tidak bingung, yuk kenali satu per satu jenis kontraksi saat hamil.
Kontraksi dini atau premature contraction tidak dapat reda dengan istirahat. Kontraksi jenis ini terjadi jika Bumil merasakan kontraksi teratur sebelum usia kehamilan 37 minggu. Umumnya di trimester 1 karena tubuh beradaptasi sama kehamilan. Biasanya kontraksi dini memiliki pola tertentu, misalnya setiap 10–12 menit selama lebih dari 1 jam.
Selain perut yang terasa kencang, biasanya kontraksi dini disertai gejala berikut ini:
Ada anggapan bahwa kontraksi di awal kehamilan ini merupakan bentuk adaptasi tubuh dengan peregangan ligamen di sekitar rahim.
Namun, karena kontraksi jenis ini berisiko menyebabkan persalinan prematur, ada baiknya Bumil memeriksakan kandungan ke dokter jika mengalaminya, terutama jika disertai dengan perdarahan atau air ketuban merembes.
Memasuki trimester kedua, Bumil mungkin merasakan otot rahim berkontraksi secara tidak teratur. Kondisi ini dinamakan kontraksi palsu atau kontraksi Braxton-Hicks. Jenis kontraksi ini belum menjadi tanda persalinan.
Gejala yang dapat muncul dari kontraksi palsu adalah perut terasa kencang tetapi tidak nyeri, kontraksi terpusat pada bagian perut, dan terasa jika ibu sedang kelelahan atau kurang minum. Kontraksi palsu dapat mereda jika Bumil mengubah posisi tubuh, misalnya dari berbaring lalu berdiri dan berjalan sejenak.
Kontraksi palsu umumnya tidak akan bertambah kuat dan tidak menyebabkan perubahan atau pembukaan pada leher rahim. Namun, Bumil perlu segera memeriksakan diri jika kontraksi terasa semakin kuat atau disertai dengan perdarahan.
Biasanya hanya berlangsung maksimal 1 jam. Kalau tidak ada perdarahan atau gerakan janin aktif, maka ini tidak berbahaya.
Dirasakan di usia 37 mgg lebih, dengan durasi 20-40 detik dan interval 10 menit sekali. Di sertai pula keluarnya lendir bercampur darah, pecahnya ketuban, serta dorongan ingin mengejan.