Artikel Kuncup Ceria

"Pelayanan Layaknya Keluarga."

PUASA BAGI PENDERITA DIABETES kategori : Penyakit Dalam

Peningkatan prevalensi diabetes mellitus di Indonesia telah menjadi ancaman yang serius dibidang kesehatan. Diproyeksikan pada tahun 2030 akan ada 21,3 juta pasien dengan diabetes mellitus. Sebagian besar penduduk Indonesia memeluk agama Islam. Agama Islam mewajibkan pemeluknya yang sudah akil baligh untuk melaksanakan puasa selama bulan Ramadan.

Selama berpuasa akan terjadi perubahan jadual maupun pola makan serta perubahan aktifitas jasmani sehingga berpotensi tidak terkendalinya glukosa darah pada penyandang diabetes. Perubahan-perubahan tersebut memerlukan penyesuaian yang memadai sehingga penyandang diabetes dapat melaksanakan ibadah puasa denganaman. Bagi penyandang diabetes, kegiatan berpuasa dalam jangka waktu yang cukup lama akan meningkatkan timbulnya risiko dehidrasi, hipoglikemi maupun hiperglikemi. Untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan, pemahaman yang benar tentang perubahan perilaku penyandang diabetes yang akan berdampak pada terjadinya perubahan profil glukosa darah sangat perlu dikuasai. Disisi lain pemahaman yang baik ini akan sangat berarti bagi penyusunan program penatalaksanaan diabetes itu sendiri selama menjalankan ibadah puasa.

Terdapat hal- hal yang harus diperhatikan bagi penderita diabetes yang menjalankan ibadah puasa, yakni :

  1. Individualisasi. Yaitu perencanaan pengelolaan yang berbeda pada setiap individu baik yang berkaitan obat –obat diabetes yang digunakan maupun yang berkaian dengan perencanaan diet.
  2. Pemantauan glikemi. Kemampuan pasien dan ketersediaan alat untuk memantau kadar glukosa darahnya sendiri tiap beberapa kali sehari sangatlah penting terutama penderita yang menggunakan insulin.
  3. Nutrisi. Seharusnya diet selama bulan Ramadan tidak terlalu berbeda dengan diet sehat dan seimbang di hari-hari biasa. Saran diet sebaiknya disesuaikan dengan keadaan klinis serta kebutuhan khas tiap individu. Pengaturan makanan bertujuan mempertahankan masa tubuh yang konstan. Diet yang dianjurkan adalah makanan yang mengandung karbohidrat kompleks yang dikonsumsi sedekat mungkin dengan subuh. Minum air yang banyak juga sangat dianjurkan di saatboleh makan/minum. Dari berbagai studi, sekitar 50–60% pasien dapat mempertahankan berat badan selama Ramadan, sedangkan sekitar 20–25% mengalami peningkatan atau penurunan berat badan.
  4. Aktivitas jasmani. Aktivitas jasmani yang normal mungkin dapat dipertahankan. Sebaliknya, aktivitas jasmani yang berlebih sebaiknya dihindari karena dapat meningkatkan risiko hipoglikemi. Bagi sebagian pasien ada yang tetap menjalankan program aktivitas jasmani yang biasa dilakukan sesudah buka puasa. Namun pada pasien DM tipe 1 yang tidak terkendali, aktivitas jasmani malah dapat menyebabkan hiperglikemi berat.
  5. Menghentikan puasa. Pasien harus memahami bahwa puasa harus segera dihentikan bila terjadi :
    • hipoglikemi (glukosa darah <60 mg/dL), karena kadar glukosa darah akan terus turun bila tidak segera diterapi.
    • Kadar glikemi beberapa jam sesudah puasa dimulai <70 mg/dL. Kadar glukosa >300 mg/dL.
    • Pasien sakit.

Puasa pada ibu hamil dikaitkan dengan peningkatan kesakitan dan kematian janin serta ibu. Pada umumnya wanita dengan diabetes dianjurkan untuk tidak berpuasa. Walaupun ibu hamil dibebaskan dari kewajiban berpuasa di bulan Ramadan, sebagian dari ibu-ibu yang diketahui menyandang DM tipe 1 atau DM tipe 2 tetap bersikeras untuk berpuasa. Wanita-wanita tersebut merupakan kelompok berisiko tinggi dan memerlukan perhatian khusus serta perawatan yang lebih intensif. Idealnya pasien dirawat di klinik diabetes oleh dokter ahli kebidanan, ahli diabetes, ahli gizi, dan edukator diabetes.

Dr. Indro Buono SpPD MKes, Sumber : Perkeni, 2015